Rusuh SARA di Tanjung Balai, 8 Wihara dibakar



Kerusuhan bernada SARA kembali terjadi dibumi Indonesia tercinta. Tepatnya di daerah Tanjung Balai, Sumatera Utara. Hingga berita ini diturunkan tercatat 10 rumah dan 6 wihara rumah ibadat umat Budha di bakar. Berdasarkan informasi yang diperoleh kerusuhan ini diawali gara-gara seorang warga yang mengamuk mendengar suara Azan di masjid.
tercatat 10 rumah dan 6 wihara rumah ibadat umat Budha di bakar
Add caption
“Kejadian ini berawal dari adanya permintaan seorang warga Tionghoa, M (41), warga Jalan Karya Tanjungbalai Balai yang menegur nazir Masjid Al Makhsum yang ada di Jalan Karya dengan maksud agar mengecilkan volume mikrofon yang ada di masjid, di mana menurut nazir masjid bahwa hal tersebut telah diungkapkan beberapa kali,” sebut Rina.  Sekitar pukul 20.00 WIB, setelah selesai salat Isya, jemaah dan nazir masjid menjumpai M ke rumahnya. Kepala lingkungan mengamankan M dan suaminya ke kantor lurah. Karena suasana pada saat itu sudah agak memanas, maka M dan suaminya diamankan ke Polsek Tanjungbalai Selatan.  Setibanya di Polsek lalu dilakukan pertemuan dengan melibatkan Ketua MUI, Ketua FPI, camat, kepling dan tokoh masyarakat setempat. Pada saat bersamaan massa mulai banyak berkumpul yang dipimpin kelompok elemen mahasiswa dan melakukan orasi. Selanjutnya massa yang diimbau sempat membubarkan diri.  Pukul 22.30 WIB massa kembali berkumpul karena diduga telah mendapat informasi melalui media sosial ( Facebook) yang diposting salah seorang warga. Selanjutnya massa kembali mendatangi rumah M di Jalan Karya. Mereka hendak membakar namun dilarang warga sekitar.  Karena massa sudah semakin banyak dan semakin emosi, selanjutnya massa bergerak menuju Vihara Juanda yg berjarak sekitar 500 meter dari Jalan Karya. Upaya pembakaran diadang personel Polres Tanjungbalai, namun terjadi pelemparan menggunakan batu sehingga vihara mengalami kerusakan.  Selanjutnya massa bergerak melakukan tindakan pembakaran dan pengerusakan di sejumlah vihara dan klenteng di Tanjungbalai. Massa melakukan pembakaran terhadap 1 unit Vihara dan 3 unit klenteng 3 unit mobil, 3 unit sepeda motor dan 1 unit betor di Pantai Amor; merusak barang-barang 1 unit klenteng di Jalan Sudirman, merusak barang-barang 1 unit klenteng dan 1 unit praktik pengobatan Tionghoa serta 1 unit sepeda motor di Jalan Hamdoko; merusak barang-barang 1 unit klenteng di Jalan KS Tubun dan 1 unit bangunan milik Yayasan Putra Esa di Jl Nuri; membakar barang-barang dalam 1 unit vihara di Jalan Imam Bonjol, merusak isi bangunan Yayasan Sosial dan merusak 3 unit mobil di Jalan WR Supratman, merusak pagar vihara di Jalan Ahmad Yani, membakar barang-barang yang ada dalam 1 unit klenteng di Jalan Ade Irma.  “Jenis barang-barang yang dibakar maupun yg dirusak massa di dalam vihara dan Kelenteng itu berupa peralatan sembahyang seperti dupa, gaharu, lilin, minyak dan kertas, meja, kursi, lampu, lampion, patung Budha, dan gong,” sebut Rina.  Polisi kemudian mengambil sejumlah langkah untuk mengendalikan situasi. Mereka berkoordinasi dengan aparat keamanan terkait termasuk dengan Polres terdekat. Mereka juga berkoordinasi dengan Muspida, tokoh agama dan tokoh masyarakat.  “Kita juga menyampaikan imbauan dan menghalau massa untuk membubarkan diri. Melakukan penjagaan dan pengamanan di lokasi vihara dan kelenteng,” sambung Rina.
Add caption
tercatat 10 rumah dan 6 wihara rumah ibadat umat Budha di bakar
Add caption
Perusakan itu diduga lantaran umat islam tersinggung terhadap seorang warga berinisial, M (41) yang protes terhadap kegiatan ibadah di masjid Almakshum yang berada di Jalan Karya, Tanjung Balai.

Hingga dinihari ini  Kota Tanjungbalai masih mencekam. Sejumlah rumah ibadah warga beragama Budha terlihat masih terbakar. Kepolisian Tanjungbalai pun tidak dapat berbuat banyak karena jumlah massa yang terus bertambah.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa berawal dari seorang warga Jalan Karya Kel TB, Kota I, Kecamatan Tanjung Balai Selatan, Kota Tanjung Balai yang menegur pengurus rumah ibadah untuk mengecilkan suara mikrofon.

Malamnya, pengurus rumah ibadah itu menemui warga yang protes. Namun tanpa disangka, suasana memanas dan polisi terpaksa mengamankan pasangan pasangan suami istri itu ke Mapolsek Tanjung Balai Selatan demi keamanan.

Setibanya di Polsek, lalu dilakukan pertemuan dengan sejumlah pemuka agama, tokoh masyarakat, dan camat setempat. Pada saat yang bersamaan, massa mulai banyak berkumpul yang dipimpin oleh kelompok elemen mahasiswa.

Disini, massa bersama mahasiswa melakukan orasi memprotes sikap orang tersebut. Selanjutnya massa diimbau untuk tertib dan sempat membubarkan diri.

Namun sekitar pukul 22.30 WIB, Jumat 29 Juli 2016 malam, konsentrasi massa kembali terjadi. Diduga berkumpulnya massa ijni akibat informasi melalui media sosial (facebook) yang diposting oleh salah seorang aktivis.

Massa kembali mendatangi rumah di Jalan Karya dan hendak membakarnya. Aksi massa berhasil dicegah warga sekitar yang tidak ingin kampung mereka tercoreng dengan ulah massa.

Karena massa semakin banyak dan sudah diliputi emosi, selanjutnya massa bergerak menuju rumah ibadah yang berjarak sekitar 500 meter dari Jalan Karya.

Massa yang hendak melakukan pembakaran berhasil dihadang polisi, tetapi massa melakukan pelemparan sehingga sejumlah fasilitas di rumah ibadah itu rusak.

Selanjutnya massa bergerak melakukan tindakan pembakaran dan perusakan secara masif hingga merusak delapan rumah ibadah. sumber sindonews







Related Posts

Rusuh SARA di Tanjung Balai, 8 Wihara dibakar
4/ 5
Oleh